Lamborghini Huracán LP 610-4 t

........:::::Sayyid Qutb:::::........

Sayyid Qutb lahir pada tahun 9 Oktober 1906 M dari rahim seorang ibu sederhana di desa Musyah di Propinsi Asy Syuth. Beliau adalah anak kedua dari empat bersaudara. Anak tertua seorang perempuan, Hamidah Qutb. Muhammad Qutb anak ketiga dan yang terakhir Aminah Qutb. Sejak kecil mereka telah dikenalkan dengan lingkungan islami dan dibesarkan dengan didikan islami. Fatimah sang ibu menjaga pergaulan anak- anaknya dari lingkungan jahiliah. Tidak heran kalau dari keluarga ini kemudian lahir para penulis Islam yang handal. Keempatnya pernah membuat satu bunga rampai yang diberi judul "Al Aty'f al Arba'ah".
Sebelum genap berusia 10 tahun Sayyid Qutb telah menghafal Alquran sebagaimana harapan ibunya. Dalam bukunya "Taswžr al fannž fil qur'n" ia mengatakan, "Harapan ibu yang paling besar terhadapku adalah agar Allah berkenan membuka hatiku, hingga aku bisa menghafal Alquran dan membacanya di hadapan ibu dengan baik. Sekarang saya telah hafal Alquran dengan demikian saya telah menunaikan sebagian harapan ibu". Pada tahun 1918 ia menamatkan pendidikan dasarnya di Musya. Tahun 1920 ia kemudian merantau ke Kairo dan tinggal bersama pamannya untuk meneruskan sekolah ke jenjang menengah di madrasah Abdul Aziz (sekolah guru menengah). Lima tahun setelah itu ia melanjutkan pendidikan ke jenjang menengah atas di madrasah persiapan Darul Ulum. Kemudian pada tahun 1929 Sayyid Qutb terdaftar sebagai mahasiswa di fakultas adab universitas Darul Ulum Kairo dan tamat pada tahun 1933.
Setelah lulus Sayyid Qutb dilantik oleh departemen pendidikan menjadi guru di madrasah D'wudiyah. Kemudian dipindah ke madrasah Dimyat pada tahun 1935 . Pada tahun 1936 dipindah lagi ke Helwan. Sejak tahun 1940 sampai 1945 ia ditarik dari dunia pengajaran dan diperbantukan di Kantor departemen pendidikan. Pada tahun 1948 mendapat kepercayaan menjadi utusan departemen pendidikan Mesir ke Amerika. Selama dua tahun ia bermukim di Amerika untuk mempelajari metode pengajaran di Amerika sebagai studi banding dengan sistem pendidikan di Mesir. Tepatnya pada 20 Agustus 1950 Sayyid Qutb kembali ke Mesir dan diperbantukan menjadi pengawas di tehnikal riset departemen pendidikan Mesir. Tahun 1952 Sayyid Qutb mengundurkan diri dari tugas kepegawaian dan mulai berkecimpung di dunia pers.
Menginjak usia 45 tahun, Sayyid Qutb mulai bergabung dengan gerakan Ikhwanul Muslimin dan pada tahun 1954 ia dipercaya menjadi pemimpin redaksi majalah resmi Ikhwanul muslimin. Di tahun yang sama ia ditangkap bersama beberapa pemimpin Ikhwanul muslimin dan mendekam di penjara selama dua bulan. Belum cukup beristirahat, Sayyid Qutb kembali ditangkap juga di tahun 1954 dengan tuduhan terlibat usaha pembunuhan terhadap presiden yang berkuasa, Jamal Abdul Naser. Dalam persidangan militer yang dipimpin oleh jamal Salim dan beranggotakan Anwar Sadat dan Husein Syafi'i, Sayyid Qutb dijatuhi hukuman 15 tahun penjara. Melalui permohonan presiden Irak ketika itu, Abdussalam Arif, Sayyid Qutb mendapat pemotongan masa hukuman dan dikeluarkan dari penjara pada tahun 1964.
Pada tanggal 9 Agustus 1965 untuk ketiga kalinya Sayyid Qutb kembali ditahan dengan tuduhan merencanakan kudeta untuk menggulingkan pemerintah dan usaha pembunuhan presiden. Melalui sidang militer yang dipimpin oleh Fuad ad Dajwa, tanggal 12 Agustus 1965 dijatuhkan hukuman mati buat Sayyid Qutb yang pelaksanaannya dijadwalkan tanggal 21 Agustus 1966.
Mengetahui putusan hakim, banyak pihak yang bersimpati kepada Sayyid Qutb dan mengirimkan surat permohonan kepada Jamal Abdul Nasser untuk memberikan grasi bagi Sayyid Qutb. Bahkan di Pakistan terjadi demo besar-besaran. Demo ini digerakkan oleh berbagai organisasi Islam meminta Abdul Naser mencabut kembali tuduhan buat Sayyid Qutb dan membebaskannya dari hukuman mati. Para pemimpin negara pun tidak ketinggalan. Di antaranya Raja Faisal dari Saudi Arabia mengirim surat permohonan pembebasan Sayyid Qutb. Pada tanggal 28 Agustus 1965 surat permohonan dari raja Faisal sampai ke tangan pembantu presiden Jamal Abdul Nasser, Sami Syarf. Ketika akan diberikan Jamal Abdul Nasser menolak kemudian menginstruksikan kepada Sami Syarf, "Pancunglah ia di waktu Subuh, baru kemudian engkau berikan surat itu kepadaku".
Di pagi dinihari tepatnya tanggal 29 Agustus 1966, Sayyid Qutb dipancung di penjara militer. Presiden Jamal Abdul Naser kemudian mengirimkan surat permohonan maaf ke raja Faisal dan mengabarkan bahwa surat sang raja sampai ke tangannya setelah pelaksanaan hukuman.
Sayyid Qutb Seorang Sastrawan
Sejak kecil Sayyid Qutb telah tertarik dengan dunia sastra. Kecenderungan sastra semakin tumbuh ketika ia dikenalkan oleh beberapa penduduk desa yang belajar di Kairo dengan beberapa penyair terkenal Mesir. Nama- nama penyair seperti Ahmad Syauqi, Hafidz Ibrahim telah menghias pikirannya. Kecenderungan ini sempat dibaca oleh Kepala sekolah tempat Sayyid Qutb belajar. Beberapa bait syair Tsabit Jarjawi sering diberikan kepala sekolah kepada Sayyid Qutb untuk dihapal.
Dalam bukunya Taswžr al fannž fi al Qur'n, Ia menceritakan ketika selesai dari pendidikan dasar Sayyid Qutb tidak langsung melanjutkan ke jenjang berikutnya. Waktu itu ia baru berumur 10 tahun. Sementara syarat diterima di pendidikan menengah (Madrasah Abdul Azis) harus berusia 15 tahun. untuk bekerja membantu bapaknya bekerja di sawa

Berarti harus menunggu selama lima tahun... Dalam masa penantian, Sayyiq Qutb mengisi waktu luangnya dengan membaca buku. Karena ukuran badannya yang tergolong kecil ia tidak kuat untuk bekerja membantu bapaknya bekerja di sawah seperti kebanyakan anak desa. Berbagai buku dilahap Sayyid Qutb mulai dari kisah-kisah kepahlawanan sampai buku- buku agama. Bahkan ia mempunyai perpustakaan pribadi di rumahnya. Karena gemar membaca Sayyid Qutb disegani oleh masyarakat desanya yang tergolong masyarakat menengah ke bawah dan buta huruf.
Ketika mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di Kairo tidak disia-siakan olehnya. Hidup dan belajar di Kairo adalah kesempatan emas buat Sayyid Qutb. Karena ia dapat langsung berhubungan dengan para penyair besar Mesir. Selama hidup di Mesir ia mulai mengasah bakatnya di bidang sastra. Ia begitu intens mengikuti berbagai kajian sastra.
Pada awalnya Sayyid Qutb sangat tertarik dengan aliran sastra yang dibawa oleh Abbas mahmud al Aqqad. Sejak tahun 1923 Sayyid Qutb begitu intens menghadiri muhadarah Abbas Mahmud al Aqqad di setiap tempat dan menjadikannya sebagai guru sastra. Setidaknya ada dua alasan kenapa Sayyid Qutb tertarik kepada Abbas Mahmud al Aqqad.
Pertama: Sayyid Qutb termasuk warga kelas menengah ke bawah dari segi ekonomi. Pada waktu itu Mesir tergolong negara miskin. Kesempatan belajar di sekolah-sekolah favorit hanya milik orang kaya. Orang miskin tidak punya banyak kesempatan untuk menimba ilmu kalau tidak memiliki indeks prestasi yang tinggi. Sebagai anak desa Sayyid Qutb juga mengalami hal yang sama. Kesulitan hidup di Kairo membawa pengaruh kepada pola pikirannya. Namun ia tidak menyerah dengan keadaan tapi malah berontak dengan lingkungan. Ia mengkritisi tatanan sosial masyarakatnya. Untuk itu ia sangat mengidolakan sastrawan yang sejalan dengan pola pikirnya. Dan hal itu ia dapati dalam sosok Abbas Mahmud al Aqqad.
Kedua: Abbas Mahmud Al Aqqad adalah termasuk pembaharu dalam bidang sastra pada zamannya. Kelebihan Abbas al Aqqad dibanding sastrawan lain di zamannya adalah ia mampu membaca karya-karya sastra penulis barat. Waktu itu termasuk aib bagi seorang penulis bila tidak menguasai bahasa asing. Dalam tulisan-tulisannya Abbas al Aqqad sering mengkritisi pola hidup masyarakat Mesir dan membandingkannya dengan masyarakat Barat. Ia banyak mengadopsi budaya barat sebagai masyarakat percontohan. Kekayaan informasi di samping penguasaan bahasa asing yang dimiliki Abbas Mahmud al Aqqad membuat Sayyid Qutb mengaguminya. Ia memandang Abbas Mahmud al Aqqad sebagai sastrawan yang membawa nafas baru bagi masyarakat Mesir. Bila ia berjalan sesuai dengan aliran yang dibawa Abbas Mahmud al Aqqad maka ia akan mampu merubah tatanan sosial masyarakat.
Berdasarkan dua alasan di atas terjalin hubungan akrab antara Sayyid Qutb dan Abbas Mahmud al Aqqad. Hubungan antara guru dan murid. Aliran sastranya banyak meniru gurunya. Seperti Abbas Mahmud al Aqqad karya- karya Sayyid Qutb baik yang berbentuk syair, prosa maupun karya ilmiah bersifat kritik sosial. Tulisan-tulisannya sering dimuat di berbagai media cetak Mesir seperti al Ahr'm, Ar Ris'lah, Ats Tsaq'fah. Ia juga menerbitkan dua majalah, al Aalam al Arabi dan al Fikr a; Jadeed sebagai wadah mengasah kemampuan jurnalistiknya. Disamping ia juga bergabung bersama gurunya di partai wafd sebagai corong sosialis di Mesir.Dengan tetap istiqamah dalam aliran Abbas Mahmud al Aqqad di setiap tulisannya membuat Sayyid Qutb dekat dengan Toha Husein ketika ia menjadi pegawai di departemen pendidikan Mesir. Kebetulan Toha Husein menjadi penasehat Kementrian Pendidikan ketika itu. Karena nasehat dari Toha Husein yang membuat Sayyid Qutb mengurungkan niat untuk mengundurkan diri dari tugas kepegawaian. Sebagai ucapan terima kasih Sayyid Qutb menghadiahkan karyanya Tifl min al qoryah kepada Toha Husein.
Ketika tahun 1945 terjadi perubahan dalam diri Sayyid Qutb. Aliran Abbas al Aqqad yang sebelumnya mendominasi dalam setiap karyanya tidak lagi terasa. Ada nuansa islami yang mulai menguat. Gejala ini dimulai dari bukunya "taswiir al fanni fi al Quran" yang diterbitkan pada tahun 1945. Pada bab pendahuluan ia memulai dengan tulisan "laqad wajadtu al Qur'n" (Sungguh aku telah menemukan al Quran). Seakan-akan ia kembali menemukan mutiara yang telah hilang selama bertahun-tahun.
Perubahan ini semakin mengkristal dalam dirinya ketika berada di Amerika dalam rangka studi banding sebagai utusan departemen pendidikan Mesir ( 1948-1950 ). Hidup di tengah- tengah lingkungan kapitalis merupakan hal baru bagi dirinya. Sebab di Mesir Sayyid Qutb terpola dengan pemikiran gurunya yang sosialis. Budaya santai masyarakat Mesir dipaksa untuk dicabut dari dirinya melihat pola kerja masyarakat Amerika yang serba profesional. Dalam sebuah makalahnya yang ditulis dari Amerika, Sayyid Qutb mengatakan, "Sesungguhnya aku yang meyakini kekuatan kalimat kini aku merasa bahwa kita di Mesir khususnya atau masyarakat Timur pada umumnya selama ini lebih banyak teori tanpa praktek nyata. Sekarang tiba waktunya bagi kita untuk membuat sesuatu selain teori belaka."
Namun kehidupan yang menghambakan materi bukan membuat Sayyid Qutb luntur dan berbaur dengan lingkungan dan pola pikir masyarakat Amerika. Tapi semangat keislamannya semakin tumbuh. Diiringi daya kritisnya yang semakin tajam. Dalam beberapa makalah yang ditulis dari Amerika Sayyid Qutb justru mencela budaya Amerika. Sekalipun semua fasilitas tersedia, hidup serba ada justru rakyat Amerika stres.

Rutinitas harian membuat mereka jenuh. Sehingga menjerumuskan mereka dalam budaya seks bebas, tindakan kriminal sebagai obat stress dan rasa jenuh.
Sayyid Qutb dan Ikhwanul Muslimin
Abdul Baqi Muhammad Husein dalam bukunya "Min a'l'm al harokah al Isl'miyah al mu''shiroh mengatakan suatu saat ketika Sayyid Qutb berada di Amerika ia heran melihat melihat masyarakat Amerika bergembira karena meninggalnya Hasan al Bana. Ketika ditanya sebab kegembiraan tersebut mereka menjawab "Bahaya laten bagi Barat dan Amerika telah terbunuh di Mesir yaitu Hasan al Bana pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin".
Sayyid Qutb takjub akan kebesaran nama Hasan al Bana di Amerika sementara ia yang orang Mesir asli tidak begitu banyak tahu. Akhirnya ia memutuskan untuk merubah haluan hidup dan bergabung dengan gerakan ikhwanul muslimin setelah selesai masa tugas di Amerika. Resminya di tahun 1953 ia menjadi anggota resmi Ikhwanul Muslimin. Dengan bekal semangat keislaman ditambah pengetahuan baru yang didapat dari Amerika menjadikan Sayyid Qutb mencapai masa keemasannya di bidang sastra. Melalui majalah ikhwanul muslimin ia banyak menulis karya dengan aliran baru yang diyakininya. Terlepas dari aliran Abbas Mahmud al Aqqad. Kritik- kritik sastranya yang terkenal dengan istilah "Nadzriah as suwar wa adz dzilal" yang tergolong fenomena baru di dunia sastra. Bukan itu saja sejak tahun 1947 berbagai buku yang sarat dengan nilai Islam lahir dari sentuhan penanya. Puncaknya ia berhasil menciptakan tafsir "Fi adz dzil'l al Qur'n" sebagai karya monumental di bidang tafsir.
Sejak bergabung dengan Ikhwanul Muslimin karya- karyanya menitik beratkan ke dalam beberapa hal:
Pertama: Kebutuhan manusia akan aqidah islami yang murni yang langsung bersumber dari al Quran dan as Sunnah. Ia mengajak masyarakat memahami aqidah secara universal tanpa ada batasan-batasan geografis yang melingkupinya. Sayyid Qutb meyakini dengan berpegang kepada Aqidah yang murni maka setiap muslim akan mampu menghadapi problematika hidup. Ia akan selamat di dunia dan bahagia di akhirat. Dalam tafsir "Fi adz dzilal al Quran" ia menjelaskan, "Sesungguhnya tugas kita bukan untuk menghukumi manusia, ini kafir ini mukmin. Tapi tugas kita adalah mengenalkan hakekat laa Ilaaha Illa Allah (tiada tuhan selain Allah). Karena manusia tidak mengetahui konsekwensi dasar kalimat tersebut yaitu menerapkan hukum Islam dalam seluruh dimensi kehidupan."
Kedua: langkah yang harus ditempuh untuk membuat masyarakat muslim sebagaimana masyarakat yang telah dibentuk oleh Rasulullah SAW di Madinah. Hal ini terlihat dari beberapa karyanya seperti: nahwa mujtama' al Isl'mi, al ad'lah al ijtim''iyah fi al Islam, hal nahnu muslimun dll.
Ketiga: keuntungan yang di dapat oleh manusia bila menjadikan Islam sebagai manhaj hidup. Hal ini dituangkan dalam buku- bukunya seperti: al Isl'm wa al musykilah al hadh'rah, as sal'm al 'lami wa al Isl'm dll.
Keempat: Sikap Islam terhadap kolonialisme dalam semua segi, ideologi, politik, ekonomi, militer dll. Hal ini terlihat dalam bukunya al Isl'm wa al isti'm'r.
Pada tahun 1954 Sayyid Qutb beserta bersama ribuan anggota gerakan ikhwanul muslimin ditangkap dengan tuduhan rencana pembunuhan terhadap Jamal Abdul Nasir yang terkenal dengan nama peristiwa Mansyiah. Padahal ia termasuk salah seorang penasehat jamal Abdul Nasir. Melalui keputusan sidang militer ia dijatuhi hukuman 15 tahun sementara beberapa anggota ikhwan ada yang dijatuhi hukuman mati termasuk Hasan al Hudhaibi. Selama dalam penjara aktivitas menulisnya tidak berhenti. Banyak buku yang dihasilkan termasuk merampungkan tafsir Fi adz dzilal al Quran.

Pada tahun 1964 ia menerbitkan bukunya "Ma'aliim fi Ath Thariq" setelah keluar dari penjara. Buku ini adalah hasil renungan Sayyid Qutb selama di penjara. Bagi yang sekilas membacanya buku ini terkesan sangat radikal. Padahal tidak demikian maksud Sayyid Qutb. Ia hanya mengkritik aturan-aturan selain aturan Allah SWT yang berlaku di masyarakat sebagai aturan jahiliyah dan bukan menghukumi masyarakat. Ketika buku ini dibaca oleh Abul A'la al Maududi ia berkomentar seolah-olah ia yang mengarang buku tersebut. Struktru ide yang ada dalam buku "Ma'aliim fi Ath Thariq" menurut al Maududi sejalan dengan ide yang dikembangkannya selama ini.
Pada tahun 1965 turun perintah dari Jamal Abdul Nasir yang sedang berada di Moskow untuk menangkap Sayyid Qutb. Setelah menjalani pemeriksaan selama tiga hari Sayyid Qutb dijatuhi hukuman mati karena bergabung dengan ikhwanul muslimin yang dituduh merencanakan kudeta. Pada pagi dini hari tepatnya tanggal 29 Agustus 1966 Sayyid Qutb menjemput syahadah di tiang gantungan.
Penutup
Membaca perjalanan hidup Sayyid Qutb bagi penulis ibarat mengulang kembali perjuangan nabi Ibrahim melawan raja Namrud. Seperti nabi Ibrahim, Sayyid Qutb berjuang untuk menemukan prinsip hidup yang benar dan itu ia dapatkan dalam gerakan ikhwanul muslimin. Bahkan ia rela mati demi prinsip tersebut.

HoME